Skip to main content

Review Kota 2 - Bandung, Kota Ideal


Arsip Instagram 29 Desember 2017


REVIEW KOTA 2: Bandung, Kota Ideal
(Yang pertama Kota Batu ya)

Sebelum mulai, berikut tempat yang saya kunjungi selama di Bandung: Terminal Leuwi Panjang, Gedung Sate, Lapangan Gasibu, Dago, Masjid Salman ITB, PPPPTK IPA, Term. Cicaheum, Bandung Indah Plaza, Taman Sejarah, Alun-alun, Masjid Raya Bandung, Kartikasari, Masjid Al-Ukhuwah, ITB, Teras Cihampelas, dan Bandung Planning Gallery. (Untuk artikel tersebut, kunjungi post sebelumnya)

Di sini saya tidak akan membahas mengenai "outlet" atau restoran kekinian yang bertebaran di Bandung. Saya hanya ingin mengulas hal-hal yang membuat saya jatuh cinta pada kota ini. Terletak 750 mdpl, Bandung memiliki cuaca yang sejuk. Terbukti sewaktu saya berjalan, baru terasa panas sekitar jam 9. Entah kebetulan pas musim 'dingin' atau sering mendung, tapi berjalan di Bandung sangatlah nyaman karena tidak panas dan mudah keringetan. Anehnya selama di Bandung tidak pernah turun hujan.

Sejauh yang saya lihat, Bandung adalah kota yang tertata (mungkin jalan-jalan saya kurang jauh). Di kota ini terdapat banyak sekali taman (gak kayak di Depok, pengen santai doang harus ke Mall). Tamannya pun isinya bukan hanya rumput doang. Sewaktu saya berkunjung ke Taman Sejarah, di sana bahkan terdapat kolam air dimana anak-anak kecil banyak yang berenang di sana. Mungkin ini efek dari walikota nya yang seorang arsitek hehehe.

Lalu lintas di Kota Bandung juga menarik. Meskipun banyak yang bingung karena banyak jalan satu arah, tapi ini bentuk rekayasa lalu lintas untuk meminimalkan lampu merah dan kemacetan. Namun kemacetan tetap tidak bisa dibendung saat musim liburan. Jalan di sini juga dilengkapi tempat parkir, lengkap dengan plang tarif dan parkir meter. Jadi jangan khawatir dianggap parkir ilegal. Tidak hanya jalannya yang bagus, tapi trotoarnya juga indah dan lebar. Waktu saya perhatikan di Dago, bahkan lebar trotoar sama dengan lebar jalan. Sayang hanya sedikit yang berjalan di sini. Trotoar di sini juga tidak diokupasi motor ataupun mobil parkir. Semacet-macetnya jalan, gak keliatan tuh motor nyelonong masuk trotoar. Saya salut dengan kesadaran penduduk kota ini.

Bus Damri Bandung. Terlihat pintu depan yang dibuka dan pintu tengah tidak dipakai 

Namun sayang, semua ini tidak didukung dengan transportasi yang baik. Saat ini pilihan transportasi umum di Bandung hanyalah angkot dan bus. Bus di sini anehnya memakai bus lantai tinggi seperti Transjakarta. Padahal penumpang menggunakan pintu depan bus, bukan pintu utama (yg tinggi). Lebih baik menggunakan bus lantai rendah seperti yang digunakan Transjakarta di Tanah Abang. Karena hanya melayani sedikit rute, angkot masih menjadi tulang punggung transportasi umum di Bandung. Tidak ada yang salah sih dengan angkot, tapi ya mau sampai kapan ngandelin angkot. Tapi tenang saja, tahun 2031, Bandung akan mempunyai BRT, Cable Car dan Monorel. Jadi mohon bersabar ya. (Btw mungkin kalo walikota nya seorang ahli perkotaan, transportasi umumnya bakal bagus kali ya wkwk)

Papan petunjuk Angkot di Jl. Djuanda 

Oh ya, di beberapa tempat kalian akan menemukan papan rute angkot dan bus seperti di gambar ___. Jujur ini benda berguna banget, terutama jika kalian tersesat dan tak tau arah jalan pulang. Papan ini menampilkan angkot/bus apa saja yang melewati jalan tersebut beserta jalan-jalan yang dilewati angkot/bus tersebut. Selain angkot dan bus, di Bandung kalian juga akan menemukan "Boseh". Gak tau artinya katanya apa (mungkin ada yg bisa ngasih tau), Boseh merupakan semacam sistem 'bike sharing' di Bandung. Dengan menjadi member Boseh, kalian bisa meminjam sepeda di halte-halte Boseh di seluruh penjuru Bandung.

Kota Bandung sangatlah nyaman bukan hanya menjadi tempat wisata, tapi juga menjadi tempat tinggal. Menurut saya, Bandung patut dijadikan kota percontohan di Indonesia. Pemimpin kota-kota di Indonesia perlu berkaca pada Kota Kembang ini. Gak usah muluk-muluk ngikutin New York atau Tokyo, cukup ngikutin Bandung aja udah bagus. Apalagi dengan adanya Bandung Planning Gallery, masyarakat bisa tau mau diapakan kota ini. Bandung, bukan hanya kota kenang-kenangan, tapi juga Kota "Ideal"

Nb: satu hal lagi yang saya suka dari Bandung adalah belum banyaknya ojek online. Jadi gak ada tuh yang 'parkir' sambil nelpon depan mall atau tempat wisata. Tapi tenang saja, kalo kalian mesen, pasti dapet kok.

Comments

Popular posts from this blog

Bintang Neutron di Nidavellir (Avengers: Infinity War)

Arsip Instagram 19 Mei 2018 Sumber marvel-cinematic-universe-guide.fandom.com Sudah nonton Avengers: Infinity War? Masih ingat adegan di atas? Ya itu adalah adegan ketika Thor mendapat Stormbreaker, palu barunya, di Nidavellir. Nidavellir sendiri merupakan sebuah kota yg penduduknya bekerja sebagai pandai besi. Penduduknya disebut Kurcaci (Dwarf). Ada satu hal yg menarik mengenai Nidavellir, yaitu sumber energi untuk melelehkan besi-besi tersebut: sebuah bintang neutron. Bintang neutron (atau neutron star) sendiri adalah jasad bintang yg mati melalui proses supernova. Ketika bintang kehabisan bahan bakar, pembangkit energi (fusi nuklir) dalam bintang berhenti. Saat tidak ada lagi energi yg menahan bintang, gravitasi menguasai dan meruntuhkan bintang. Saking besarnya gravitasi, elektron dan proton pd bintang bersatu dan membentuk neutron. Sebab itu disebut bintang neutron. Pd keadaan ini, gravitasi ditahan oleh 'tekanan neutron terdegenerasi'. Namun bukan berarti fus...

Review Kota 3 - Depok, Kota Prematur (spesial HUT ke-20)

Arsip Instagram 10-13 Mei 2019 (Spesial HUT Depok ke-20 tahun) Sejarah dan Penataan Kota Kota Depok memiliki sejarah yg berbeda dari kota seperti Bogor, Cirebon, atau Malang yg sudah ada sejak zaman kerajaan. Walaupun sudah terbentuk sejak Cornelis Chastelein, kota ini baru berkembang setelah kemerdekaan. Alhasil Depok berkembang secara liar tanpa bimbingan pemerintah serta perencana kota yg baik. Awalnya pemerintah sudah bagus dengan membuat perumahan (Depok I dan II), diikuti pengembang swasta. Namun setelah itu pemerintah seolah lepas tangan dan membiarkan masyarakat mengembangkan sendiri. Masyarakat yg tidak tau apa-apa akhirnya membangun pemukiman sekehendaknya di jalan-jalan yg sudah ada, jalan desa yg kecil. Pertumbuhan penduduk terus terjadi di tengah arus urbanisasi. Akibatnya terbentuklah kota yg berantakan. Seiring berjalan waktu, jalan desa tersebut tidak memadai untuk sebuah kota. Tapi apa daya, pelebaran dan pembuatan jalan baru sudah tidak memungkinkan karena akan...

Keliling Jakarta eps 10 - Melihat Jakarta Baru

LRT Jakarta LRT dengan dua gerbong (terlihat pendek dibanding MRT atau CL)  Selain MRT, Jakarta juga kedatangan transportasi rel lain: LRT. LRT atau kereta ringan sudah dijelaskan pada post sebelumnya tentang transportasi umum. Diulang lagi ya, LRT ialah transportasi rel seperti MRT, bedanya LRT memiliki kapasitas lebih kecil (LRT = light rail transit) dan melayani rute lebih sepi, sehingga cocok dijadikan angkutan pengumpan (feeder) untuk MRT. Sebelum di Jakarta, LRT sudah ada di Palembang. Di Jakarta sendiri ada dua layanan LRT: LRT Jakarta dibawah Pemprov DKI dan LRT Jabodebek dibawah Kemenhub dan KAI. LRT yg baru diuji coba termasuk LRT Jakarta dengan rute Kelapa Gading - Velodrome (5 stasiun), nantinya akan diteruskan ke Dukuh Atas dan Kemayoran. LRT Jabodebek direncanakan beroperasi tahun depan dgn 3 rute: Cibubur-Cawang, Bekasi Timur-Cawang, dan Cawang-Dukuh Atas. Jalur layang yg kalian temui di pinggir tol, Pancoran, dan Kuningan termasuk LRT Jabodebek. Nantinya ak...